Minggu, 23 Desember 2012

Hanya Maaf


Tidak sedikitpun kerikil-kerikil tajam itu terasa melukai tapak kakimu.
Tidak sedetikpun kau berhenti menatapku penuh harap.
Engkau berjalan setengah berlari di terik panas untuk menjemputku…
Engkau bahkan hampir  terbakar fatamorgana dengan kaos usangmu.
Tidak setegukpun air di kantung kecil itu kau nikmati,,
Engkau terus berlari ke arahku untuk  melihatku dapat minum di tengah padang pasir itu.
Ah,, engkau pembohong…!!!
Mengapa mesti berkata tidak haus padahal sepanjang hidupmu engkau berlari untuk menemuiku?
Mengapa engkau katakan tidak kepanasan padahal aku melihatmu hidup di bawah fatamorgana?
Begitu berartikah aku dalam hidupmu?
Mengapa engkau tega membunuh dirimu sendiri demi aku?
Maaf……………
Maafkan aku wahai pencintaku.
Maafkan aku tidak dapat menerka kedatanganmu.
Aku tahu,, aku tahu engkau sakit.
Aku tahu engkau terluka parah demi mencariku.
Tapi maaf,,aku belum mampu menjadi bulan yang menerangi sudut gelap kamar reotmu.
Aku belum mampu menjadi bintang yang member keindahan pada jendela kayumu.
Aku bahkan tidak mampu menjadi kupu-kupu indah yang bisa engkau lihat dikagumi orang.
Maaf…
Maafkan aku wahai jiwa yang tulus,,
Aku ternyata KOSONG.
Aku tidak menyediakan apa-apa untuk menyambutmu.
Aku tidak memiliki setitik tintapun untuk menuliskan begitu besar cintaku untukmu…
 Wahai yang berhati ikhlas…
Maafkan aku,,
Maaf aku belum mampu menceritakan kembali keindahan yang engkau gambarkan.
Aku hanya punya punya maaf..
Hanya kata itu yang ingin kutuliskan di selebaran daun kering yang diantarkan burung gagak.
MAAF UNTUKMU KAKAKKU TERCINTA. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar