Tidak
sedikitpun kerikil-kerikil tajam itu terasa melukai tapak kakimu.
Tidak
sedetikpun kau berhenti menatapku penuh harap.
Engkau
berjalan setengah berlari di terik panas untuk menjemputku…
Engkau
bahkan hampir terbakar fatamorgana
dengan kaos usangmu.
Tidak
setegukpun air di kantung kecil itu kau nikmati,,
Engkau
terus berlari ke arahku untuk melihatku
dapat minum di tengah padang pasir itu.
Ah,,
engkau pembohong…!!!
Mengapa
mesti berkata tidak haus padahal sepanjang hidupmu engkau berlari untuk
menemuiku?
Mengapa
engkau katakan tidak kepanasan padahal aku melihatmu hidup di bawah
fatamorgana?
Begitu
berartikah aku dalam hidupmu?
Mengapa
engkau tega membunuh dirimu sendiri demi aku?
Maaf……………
Maafkan
aku wahai pencintaku.
Maafkan
aku tidak dapat menerka kedatanganmu.
Aku
tahu,, aku tahu engkau sakit.
Aku
tahu engkau terluka parah demi mencariku.
Tapi
maaf,,aku belum mampu menjadi bulan yang menerangi sudut gelap kamar reotmu.
Aku
belum mampu menjadi bintang yang member keindahan pada jendela kayumu.
Aku
bahkan tidak mampu menjadi kupu-kupu indah yang bisa engkau lihat dikagumi
orang.
Maaf…
Maafkan
aku wahai jiwa yang tulus,,
Aku
ternyata KOSONG.
Aku
tidak menyediakan apa-apa untuk menyambutmu.
Aku
tidak memiliki setitik tintapun untuk menuliskan begitu besar cintaku untukmu…
Wahai yang berhati ikhlas…
Maafkan
aku,,
Maaf
aku belum mampu menceritakan kembali keindahan yang engkau gambarkan.
Aku
hanya punya punya maaf..
Hanya
kata itu yang ingin kutuliskan di selebaran daun kering yang diantarkan burung
gagak.
MAAF
UNTUKMU KAKAKKU TERCINTA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar